Sabtu, 11 Juni 2016

Lupus Eritematosus Sitemik dan Contoh Kasus



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
System imun normal akan melindungi kita dari serangan penyakit yang diakibatkan kuman, virus, dan lain-lain dari luar tubuh kita. Tetapi pada penderita lupus, system imun menjadi berlebihan, sehingga justru menyerang tubuh sendiri, oleh Karena itu disebut penyakit autoimun. Penyakit ini akan menyebabkan keradangan di berbagai organ tubuh kita, misalnya: kulit yang akan berwarna kemerahan atau erythema, lalu juga sendi, paru, ginjal, otak, darah, dan lain-lain. Oleh karena itu penyakit ini dinamakan “Sistemik,” karena mengenai hampir seluruh bagian tubuh kita.
Penyakit lupus merupakan penyakit kelaianan pada kulit, dimana disekitar pipi dan hidung akan terlihat kemerah-merahan. Tanda awalnya panas dan rasa lelah berkepanjangan, kemudian dibagian bawah wajah dan lengan terlihat bercak-bercak  merah. Tidak hanya itu, penyakit ini dapat menyerang seluruh organ tubuh lainnya salah satunya adalah menyerang ginjal. Penyakit untuk menggambarkan salah satu ciri paling menonjol dari penyakit itu yaitu ruam di pipi yang membuat penampilan seperti serigala. Meskipun demikian, hanya sekitar 30% dari penderita lupus benar-benar memiliki ruam “kupu-kupu”, klasik tersebut.
Jika Lupus hanya mengenai kulit saja, sedangkan organ lain tidak terkena, maka disebut LUPUS KULIT (lupus kutaneus) yang  tidak terlalu berbahaya dibandingkan lupus yang sistemik (Sistemik Lupus Erythematosus /SLE). Berbeda dengan HIV/AIDS, SLE adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh sehingga antibodi yang seharusnya ditujukan untuk melawan bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh berbalik merusak organ tubuh itu sendiri seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Karena organ tubuh yang diserang bisa berbeda antara penderita satu dengan lainnya, maka gejala yang tampak sering berbeda, misalnya akibat kerusakan di ginjal terjadi bengkak pada kaki dan perut, anemia berat, dan jumlah trombosit yang sangat rendah (Sukmana, 2004).
Perkembangan penyakit lupus meningkat tajam di Indonesia. Menurut hasil penelitian Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ), pada tahun 2009 saja, di RS Hasan Sadikin Bandung sudah terdapat 350 orang yang terkena SLE (sistemic lupus erythematosus). Hal ini disebabkan oleh manifestasi penyakit yang sering terlambat diketahui sehingga berakibat pada pemberian terapi yang inadekuat, penurunan kualitas pelayanan, dan peningkatan masalah yang dihadapi oleh penderita SLE. Masalah lain yang timbul adalah belum terpenuhinya kebutuhan penderita SLE dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan dukungan yang terkait dengan SLE. Manifestasi klinis dari SLE bermacam-macam meliputi sistemik, muskuloskeletal, kulit, hematologik, neurologik, kardiopulmonal, ginjal, saluran cerna, mata, trombosis, dan kematian janin (Hahn, 2005).

B.     Tujuan
1.       Untuk mengetahui definisi penyakit autoimun (SLE-systemik lupus erythematosus)
2.       Untuk menegtahui etiologi penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)
3.       Untuk mengetahui patofisiologi penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)
4.       Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)
5.       Untuk mengetahui penatalaksaan farmakologi dan non-farmakologi penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)
6.       Untuk mengetahui komplikasi penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)
7.       Untuk mengetahui proses keperawatan penyakit (SLE-systemik lupus erythematosus)

C.    Manfaat  
1.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan penyakit autoimun
2.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan penyakit lupus
3.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan penyebab dari lupus
4.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan tanda dan gejala lupus
5.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan penanganan farmakologi dan non-farmakologi lupus
6.        Mahasiswa mampu mendeskripsikan komplikasi yang terdapat di lupus
7.        Mahasiwa mampu merancang asuhan keperawatan pada pasien (SLE-systemik lupus erythematosus)



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
Lupus eritematosus sitemik secara khas mengenai banyak system organ dan disertai dengan berbagai fenomena imun. Riwayat alamiahnya tidak dapat diramalkan, sering progresif, berakhir dengan kematian jika tidak diobati, tetapi dapat mereda secara spontan atau tetap membara selama bertahun-tahun. Lupus eritemotosus sistemik (SLE) pada anak umumnya lebih akut dan lebih berat dari pada SLE pada orang dewasa (Nelson Ilmu Kesehatan Anak Vol. 1 Edisi 5).
Lupus eritematosus (LE) adalah penyakit inflamasi autoimun kronik yang melewati tiga bentuk dasar: lupus discoid yang menyerang kulit; lupus yang disebabkan oleh bahan kimia atau obat-obatan; dan sistemik lupus eritematosus (SLE) yang menyerang system organ besar (Kepeawatan Medical Bedah).
Lupus eritematosus sistemik (LES) adalah suatu penyakit otoimun kronik yang ditandai oleh terbentuknya antibody-antibodi terhadap beberapa antigen diri yang berlainan. Antibody-antibodi tersebut biasanya adalah IgG atau IgM dan dapat bekerja terhadap asam nukleat pada DNA atau RNA, protein jenjang koagulasi, kulit, sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit (Buku Saku Patofisiologi Corwin).
Jadi sistemik lupus eritematosus adalah suatu penyakit autoimun kronik yang riwayat alamiahnya tidak dapat diramalkan dan berakhir pada kematian jika tidak diobati. Kecendeungan terjadinya lupus dapat berhubungan dengan genetic, hormone seks. Lupus dapat dicetuskan oleh stress, sering terpajan radiasi ultraviolet yang berlebih.
B.     Etiologi
Faktor genetic mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan ekskresi penyakit SLE. Sekitar 10%-20% pasien SLE mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita SLE. Angka kejadian SLE pada saudara kembar identic (24-69%) lebih tinggi dari pda saudara kembar non identic (2-9%). Albar 2003.
Faktor lingkungan yang menyebabkan timbulnya SLE yaitu sinar UV yang mengubah struktur DNA di daerah yang terpapar sehingga menyebabkan perubahan system imun di daerah tersebut serta menginduksi apoptosis dari sel keratonosik. SLE juga dapat di induksi oleh obat tertentu khususnya pada asetilator rambat yang mempunyai gen HLA DR-4 menyebabkan asetilasi obat menjadi lambat, obat banyak terakumulasi di tubuh sehingga memberikan kesempatan obat untuk berikatan dengan protein tubuh. Hal ini direspon sebagai benda asing oleh tubuh sehingga tubuh memebentuk kompleks antibody anti nukleat (ANA) untuk menyerang benda asing tersebut (herfindal et.al; 2000). Makanan seperti wijen (alfafa sprouts) yang mengandung asam amino L-cannavine dapat mengurangi respon dari sel limfosit T dan B sehingga dapat menyebabkan SLE (delavuente, 2002). Selain itu infeksi virus dan bakteri juga menyebabkan perubahan pada system imun dengan mekanisme menyebabkan peningkatan antibody antiviral sehingga mengaktivasi sel B limfosit non spesifik yang akan memicu terjadinya SLE (hervindal et.al ; 2000).

C.    Patofisiologi
Antibodi ini secara bersama-sama disebut ANA (anti nuklear anti body). Dengan anti gennya yang spesifik, ANA membentuk kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi. Kompleks imun ini akan mengendap pada berbagai macam organ dengan akibat terjadinya viksasi komplement pada organ tersebut. Peristiwa ini menyebabkan aktifasi komplement yang menghasilkan subtansi penyebab timbulnya reaksi radang. Bagian yang penting dalam patogenesis ini ialah terganggunya mekanisme regulasi yang dalam keadaan normal mencegah autoimunitas patologis pada individu yang resisten. Gangguan imunologis: pengujian imun yang abnormal termasuk anti-bodi anti-DNA atau anti- SM (smith) positif semu pada pengujian darah untuk sifilis, anti-bodi anti-kardiolipin, uji LE positif. Anti-bodi antinuklear: pengujian anti-bodi ANA positif. Sebagai tambahan dari sebelas kriteria tersebut, pengujian lainnya dapat membantu mengevaluasi pasien dengan lupus eritematosus sistemik untuk menentukan keparahan organ-organ yang terlibat. Termasuk diantaranya darah rutin dengan laju endap darah, pengujian kimia darah, analisa langsung cairan tubuh lainnya, serta bioksi jaringan. Kelainan cairan tubuh dan sampel jaringan dapat membantu diagnosis lanjut lupus eritematosus sistemik.

D.    Manifestasi Klinik
SLE dapat mulai secara tersembunyi atau secara akut. Kadang-kadang gejalanya telah timbul bertahun-tahun mendahului diagnosis SLE. Gejala awal yang paling sering pada anak adalah demam, malaise, atritis atau arthralgia dan ruam. Kadang-kadang pada kebanyakan anak yang terkena terjadi demam : mungkin sebentar-sebentar atau terus-menerus. Malaise, anoreksia, kehilangan berat badan, dan kelemahan sering dujimpai.
Kadang-kadang pada kebanyakan anak yang terkena, timbul manifestasi kulit. Ruam “kupu-kupu”, terdiri atas tembalan eritematosa yang bersisik atau kebiruan, melibatkan daerah pipi dan biasanya meluas diatas jembatan hidung. Ruam dapat fotosensitif dan dapat meluas kemuka, kulit kepala, leher, dada, dan tungkai ; ruam ini dapat menjadi bullosa dan mengalami insi sekunder. Lupus discoid murni (hanya menifestasi kulit) tidak lazim pada anak. Erupsi kulit lainnya adalah macula eritematosa atau lesi pungtata pada telapak tangan, telapak kaki, ujung jari, ekstremitas atau batang tubuh ; ruam vesikulitis, livedo retikularis (tambalan anyaman hitam) dan perubahan bantalan kuku. Lesi-lesi ulseratif yang macular dan sering kali tidak nyeri dapat terjadi pada palatum dan membrane mukosa mulut dan hidung. Purpura, kadang-kadang disertai dengan trombositopenia, dapat tampak pada daerah yang menggantung atau yang terkena trauma. Kadang-kadang disertai eritema nodosum dan eritema multiforme. Alopesia yang diakibatkan perandangan disekitar folikel rambut dapat berupa tambalan, atau menyeluruh, dan rambut dapat menjadi kasar, kering dan rapuh.
Arthralgia dan kekakuan sendi biasanya dijumpai dan sering terjadi pada perubahan projektif. Kadang-kadang sendi yang terkena panas dan bengkak rasa nyerinya mungkin lebih berat untuk yang diharapkan tanda-tanda klinis tersebut. Nekrosis aseptic dapat mengenai tulang pada sejumlah tempat, terutama pada kaput femoris. Tenosynovitis dan myositis dapat terjadi juga, seperti halnya Raynaud. Peliserositis (pleuritis, pericarditis, dan peritonitis) adalah khas mdan menimbulkan nyeri dada, precordial atau perut. Hepatosplenomegali dan limfadenopati generalisata sering dujumpai. Keterlibatan jantung dapat dimanifestaasikan dengan berbagai macam bising, bising gesek, kardiomegali, perubahan elektrografi, ata gagal jantung kongestif, dengan miokarditis,pericarditis, atau endocarditis verposa (endocarditis libman sacks, dikenal melalui eko kardiogram atau peada pemeriksaan otopsi) infark miokardium dapat menyebabkan kematian pada penderita yang relative mudah, termasuk anak-anak. Filterat parenkim paru dapat terjadi; tetapi infeksi harus dikesampingkan, sebelum pneumonia dapat dianggap berasal dari SLE. Pneumonia akut, perdarahan paru-paru, atau fibrosis paru yang kronis dapat terjadi. Kerterlibatan sistem saraf dapat menyebabkan perubahan keperibadian, kejang-kejang, kecelakaan serebrofaskuler, khorea, dan neuritis perifer. Manifestasi gastro intestinal meliputi nyeri perut, muntah, diare, melena, dan bahkan infark usus akibat faskulitis. Perubahan okuler dapat meliputi episkleritis, iritis, atau perubahan vaskuler retina dengan perdarahan atau eksudat (benda-benda citoid). Kejadian-kejadian trombotik yang mengenai atreri atau vena dapat terjadi, terutama pada penderita dengan antibody anti fospolopid. Keterlibatan ginjal secara klinis sering dijumpai pada anak-anak

E.     Penatalaksanaan
1.      Non farmakologi
Baik untuk SLE ringan atau sedang dan berat, diperlukan gabungan strategi pengobatan atau disebut pilar pengobatan. Pilar pengobatan SLE ini seyogyanya dilakukan secara bersamaan dan berkesinambungan agar tujuan pengobatan tercapai. Perlu dilakukanupaya pemantauan penyakit mulai dari dokter umum diperifer sampai ke tingkat dokter konsultan, terutama ahli reumatologi.
a.       Edukasi / Konseling
Pada dasarnya pasien SLE memerlukan informasi yang benar dan dukungan dari sekitarnya dengan maksud agar dapat hidup mandiri. Perlu dijelaskan akan perjalanan penyakit dan kompleksitasnya. Pasien memerlukan pengetahuan akan masalah aktivitas fisik, mengurangi atau mencegah kekambuhan antara lain melindungi kulit dari paparan sinar matahari (ultra violet) dengan memakai tabir surya, payung atau topi; melakukan latihan secara teratur. Pasien harus memperhatikan bila mengalami infeksi. Perlu pengaturan diet agar tidak kelebihan berat badan, osteoporosis atau terjadi dislipidemia. Diperlukan informasi akan pengawasan berbagai fungsi organ, baik berkaitan dengan aktivitas penyakit ataupun akibat pemakaian obat-obatan.
Edukasi keluarga diarahkan untuk memangkas dampak stigmata psikologik akibat adanya keluarga dengan SLE, memberikan informasi perlunya dukungan keluarga yang tidak berlebihan. Hal ini dimaksudkan agar pasien dengan SLE dapat dimengerti oleh pihak keluarganya dan mampu mandiri dalam kehidupan kesehariannya.
b.      Program Rehabilitasi
Terdapat berbagai modalitas yang dapat diberikan pada pasien dengan SLE tergantung maksud dan tujuan dari program ini. Salah satu hal penting adalah pemahaman akan turunnya masa otot hingga 30% apabila pasien dengan SLE dibiarkan dalam kondisi immobilitas selama lebih dari 2 minggu. Disamping itu penurunan kekuatan otot akan terjadi sekitar 1-5% per hari dalam kondisi imobilitas. Berbagai latihan diperlukan untuk mempertahankan kestabilan sendi. Modalitas isik seperti pemberian panas atau dingin diperlukan untuk mengurangi rasa nyeri, menghilangkan kekakuan atau spasme otot. Demikian pula modalitas lainnya seperti transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) memberikan manfaat yang cukup besar pada pasien dengan nyeri atau kekakuan otot. Secara garis besar, maka tujuan, indikasi dan tekhnis pelaksanaan program rehabilitasi yang melibatkan beberapa maksud di bawah ini, yaitu: a. Istirahat b. Terapi isik c. Terapi dengan modalitas d. Ortotik e. Lain-lain.
2.      Farmakologi
a.    Kortikosteroid (prednison 1-2 mg/kg per hari s/d 6 bulan postpartum)  (metilprednisolon 1000 mg per 24jam dengan pulse steroid th/ selama 3 hr, jika membaik dilakukan tapering off).
b.    AINS (Aspirin 80 mg/hr sampai 2 minggu sebelum TP).
c.    Imunosupresan (Azethiprine 2-3 mg/kg per oral).
d.   Siklofospamid, diberikan pada kasus yang mengancam jiwa 700-1000 mg/m luas permukaan tubuh, bersama dengan steroid selama 3 bulan setiap 3 minggu.

F.     Komplikasi
Seseorang  yang menderita Lupus kemungkinan akan mengalami komplikasi seperti :
1.    Komplikasi akibat terapi steroid yang dijalani.
2.    Diabetes
3.    Tekanan darah tinggi
4.    Peningkatan kolesterol
5.    Obesitas yang menyebabkan serangan jantung
6.    Penyakit ginjal
7.    Infeksi
8.    Lupus yang menyerang sistem saraf sentral
9.    Penggumpalan darah atau komplikasi cardiovascular


BAB III
KASUS

A.    Kasus
Seorang perempuan berumur 30 tahun datang berobat kepoli penyakit dalam dengan keluhan utama nyeri sendi sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan pada sendi-sendi tangan, pergelangan tangan, kaki, pergelangan kaki, dan lutut, yang kadang-kadang disertai bengkak dan kaku dipagi hari selama 2 - 3 jam. Kadang-kadang pada wajah dan leher timbul bercak kemerahan bila beraktifitas diluar dan pasien dan terkena sinar matahari. Kejadian ini sudah 3 kali dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh cepat merasa lelah dan sering mengalami sariawan.
Pasien mengatakan bahwa pada 3 bulan yang lalu pernah mengalami demam yang tidak diketahui penyebabnya, namun kemudian menghilang dengan sendirinya. Keluhan nyeri dada, sesak napas, nyeri perut, penurunan berat badan, gangguan BAB atau BAK disangkal oleh pasien. Kadang-kadang pasien mengkonsumsi obat antirematik untuk mengatasi nyeri pada sendi-sendinya.
Riwayat penyakit dahulu: pasien mengatakan sering terserang flu. Riwayat penyakit keluarga : anggota keluarga tidak ada yang sakit seperti ini. Riwayat kebiasaan : pasien tidak merokok, minum alkohol, ataupun mengkonsumsi obat-obat tanpa resep dokter.
Hasil pemeriksaan fisik : TD 130/80 mmHg, frekuensi Nadi 96 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit, suhu 37o C. Konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik. Hasil pemeriksaan laboratorium : HB 10,5 g/dL, Ht 30 %, trombosit 140000 /mm3, LED 35 mm/jam, leukosit 4000 /mm3 . hasil usulan pemeriksaan laboratorium : Tes ANA reaktif, pola homogeneus.
Dari hasil pemeriksaan tersebut dokter mendiagnosa pasien menderita penyakit autoimun : SLE.

B.     Askep
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM IMUN

Asuhan Keperawatan Pada Ny.A Dengan Gangguan Sistem Imun
Di Kamar…. Bed….
RSUD……

Nama Mahasiswa        : Kelompok I
Tanda Tangan             :
Tanggal Pengkajian     : Tidak Terkaji
Tanggal Masuk Rs      : Tidak Terkaji
No.Medical Record    : Tidak Terkaji
1.      pengkajian
 A. BIODATA
a. Identitas Klien   
Nama Klien                   : Ny.A
Umur                             : 30 Tahun
Jenis Kelamin                : P
Pendidikan                    : Tidak Terkaji
Agama                           : Tidak Terkaji
Pekerjaan                       : Tidak Terkaji
Suku Bangsa                  : Tidak Terkaji
Status Perkawinan         : Tidak Terkaji
Gol. Darah                     : Tidak Terkaji
Diagnosa Medis            :  SLE (Systemic Lupus Erithematosus)
Alamat                           : Tidak Terkaji
b. Identitas Penanggungjawab
Nama                           : Tidak Terkaji
Umur                           : Tidak Terkaji
Agama                         : Tidak Terkaji
Pendidikan                  : Tidak Terkaji
Pekerjaan                     : Tidak Terkaji
Alamat                         : Tidak Terkaji
Hubungan Keluarga    : Tidak Terkaji

 B. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama: Nyeri sendi
2. Riwayat Kesehatan Sekarang:
Seorang perempuan berumur 30 tahun datang berobat kepoli penyakit dalam dengan keluhan utama nyeri sendi sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan pada sendi-sendi tangan, pergelangan tangan, kaki, pergelangan kaki, dan lutut, yang kadang-kadang disertai bengkak dan kaku dipagi hari selama 2 - 3 jam. Kadang-kadang pada wajah dan leher timbul bercak kemerahan bila beraktifitas diluar. Pasien dan terkena sinar matahari. Kejadian ini sudah 3 kali dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Pasien juga mengeluh cepat merasa lelah dan sering mengalami sariawan.
Pada 3 bulan yang lalu pasien pernah mengalami demam yang tidak diketahui penyebabnya, namun kemudian menghilang dengan sendirinya. Keluhan nyeri dada, sesak napas, nyeri perut, penurunan berat badan, gangguan BAB atau BAK disangkal oleh pasien. Kadang-kadang pasien mengkonsumsi obat antirematik untuk mengatasi nyeri pada sendi-sendinya.
3.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan sering terserang flu

4.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut pemaparan dari keluarga pasien, tidak ada yang sakit seperti yang dialami pasien saat ini.
D. Riwayat Imunitas
Tidak terkaji
 E. Riwayat Sosial
Menurut pasien dirinya bukan seorang perokok, meminum alcohol, ataupun mengkonsumsi obat-obat tanpa resep dari dokter.
F. Data Biologis
Tidak Terkaji
G. PEMERIKSAAN FISIK
1.    Status Kesehatan
a.    Keadaan Umum     : Lemah
b.    Penampilan             : Tidak Terkaji
c.    Kesadaran               : Tidak Terkaji
d.   Orientasi                 : Tidak Terkaji
e.    Vital Sign
TD                          : 130/80 mmHg
Nadi                        : 96 x/menit
 RR                         : 20 x/menit
Suhu                       : 37,0C
BB                                      :  Menurun
TB                           :  Tidak Terkaji

2.      Sistem Pernapasan :
Inspeksi           : Pasien terlihat lelah dan sesak napas
Palpasi             : Nyeri dada
Perkusi            : Tidak Terkaji
Auskultrasi      : Tidak Terkaji
3.      Sistem Kardiovaskuler :
Inspeksi           : Konjungtiva terlihat anemis dan skelera tidak ikterik
Palpasi             : Tidak Terkaji
Perkusi : Tidak Terkaji
Auskultasi       : Tidak Terkaji

4.      Sistem Persepsi-Sensorik :
Tidak Terkaji
5.      Sitem Penglihatan :
Tidak Terkaji
6.      Sitem Perkemihan dan Genetalia :
Tidak Terkaji
7.      Sistem Pencernaan :
Inspeksi           :
Palpasi             : Nyeri pada perut
Perkusi : Tidak Terkaji
Auskultasi       : Tidak Terkaji

8.      Sistem Muskuloskeletal :
Inspeksi           : adanya bengkak pada sendi-sendi tangan dan kaki
Palpasi             : nyeri sendi-sendi tangan, pergelangan tangan, kaki, pergelangan kaki, lutut dan terdapat kekakuan pada sendi.
Perkusi : Tidak Terkaji
Auskultasi       : Tidak Terkaji

9.      Sistem Endokrin
   Tidak Terkaji
10. Sistem Integumen
Inspeksi           : Terlihat bercak kemerahan di area wajah dan leher pada saat terkena sinar matahari
Palpasi             : Tidak Terkaji
Perkusi : Tidak Terkaji
Auskultasi       : Tidak Terkaji


 H. Data Psikologis
1.      Pola Kognisi dan Persepsi Sensori
a.    Status mental                                              : Tidak Terkaji
b.    Orientasi                                                     : Tidak Terkaji
c.    Keadaan emosional                                    : Tidak Terkaji
d.   Bicara                                                         : Tidak Terkaji
e.    Bahasa yang digunakan                              : Tidak Terkaji
f.     Kemampuan membaca                               : Tidak Terkaji
g.    Kemampuan interaksi                                 : Tidak Terkaji
h.     Pengetahuan tentang penyakitnya             : Tidak Terkaji
i.      Respon klien terhadap penyakitnya           : Tidak Terkaji
2. Pola Konsep Diri
a.    Gambaran Diri        : Tidak Terkaji
b.    Ideal Diri                : Tidak Terkaji
c.    Harga Diri               : Tidak Terkaji
d.   Peran Diri               : Tidak Terkaji
e.    Identitas Diri          : Tidak Terkaji
3. Pola Peran-Berhubungan
Tidak Terkaji
4. Pola Seksual dan Seksualitas
     Tidak Terkaji
5.    Pola Mekanisme Koping
Tidak Terkaji
6.    Pola Nilai Kepercayaan
Tidak Terkaji

I.     Pemeriksaan Penunjang
No
Nama Pemeriksaan
Nilai Normal
Hasil
1.
Laboratorium
Darah :
a.       Hb

b.      HT
c.       Trombosit
d.      LED
e.       Leukosit

Tes ANA reaktif
Pola homogeneus


a.

b.
c.
d.
e.


a.       10,5 g/dL

b.      30%
c.       140.000/ mm3
d.      35mm/jam
e.       4000/mm3

J.   Informasi Tambahan
     Tidak Terkaji
2.      Analisa Data
No
Data Senjang
Etiologi
Masalah Keperawatan
1.
DS : Pasien mengatakan nyeri sendi sejak 2 bulan yang lalu.

DO :
-          Bengkak dan kaku
-          TD : 130/80 mmHg
-          RR : 20 x/menit
Obat antirematik dan sinar matahari

Pengaturan imun berubah

Kadar imunoglobin serum

Antibodi bereaksi dengan unsur nucleus (ANA)

Membentuk kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi

Kompleks imun mengendap menyebabkan aktifasi komplement
 

Menyebabkan radang artritis (radang sendi)

Poliartralgia (nyeri sendi)

Nyeri


Nyeri Akut
2.
DS : Pasien
mengatakan nyeri sendi sejak 2 bulan yang lalu.

DO :
-          Timbul bercak kemerahan pada wajah dan leher
-          Bengkak dan kaku

Sinar matahari

Reaksi autoantibodi melawan antigen nuklear

Timbunan kompleks imun

Merusak organ

Bercak kemerahan

Gangguan kerusakan integritas kulit


Gangguan Kerusakan Integritas Kulit
3.









DS : Pasien mengatakan nyeri sendi sejak 2 bulan yang lalu
DO :
-          Cepat merasa lelah







SLE

Antibodi bereaksi dengan unsur nucleus (ANA)

Membentuk kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi

Kompleks imun mengendap menyebabkan aktifasi komplement

Menyebabkan artritis (radang sendi)

Poliartralgia (nyeri sendi)

Intoleransi Aktivitas


Intoleran Aktivitas











DIAGNOSA KEPERAWATAN MENURUT PRIORITAS
No
Diagnosa Keperawatan (NANDA)
Tgl Ditemukan
Tanda Tangan dan Nama Jelas
Tgl Dipecahkan
Tanda Tangan dan Nama Jelas
1.
Nyeri akut b.d Agen cidera biologis d.d Melaporkan nyeri secara verbal, dan Indikasi nyeri yang dapat di amati

Kelompok I

Kelompok I
2.
Gangguan Kerusakan Integritas Kulit b.d Penurunan imunologis d.d Gangguan permukaan kulit

Kelompok I

Kelompok I
3.        
Intoleran Aktivitas b.d Imobilitas d.d Menyatakan merasa lelah dan ketidaknyamanan setelah beraktivitas

Kelompok I

Kelompok I




3.      Rencana Tindakan
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN (NCP)
NAMA KLIEN          : Ny. A
RUANG RAWAT      : Tidak Terkaji

NO
DX KEP
PERENCANAAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
1
Nyeri akut b.d Agen cidera biologis d.d Melaporkan nyeri secara verbal, dan Indikasi nyeri yang dapat di amati
Jangka panjang: Setelah dilakukan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan nyeri teratasi
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Melaporkan adanya nyeri
2
5
2
Frekuensi nyeri
3
5
3
Pernyataan nyeri
3
5

Jangka Pendek: Setelah dilakukan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan nyeri teratasi.
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Melaporkan adanya nyeri
2
4
2
Frekuensi nyeri
3
4
3
Pernyataan nyeri
3
4
Observasi: Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, dan kualitas.

Mandiri: Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang efektif.

Kolaborasi: Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat.

Penkes: Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai
Untuk menentukan tingkat nyeri pada pasien.







Untuk meningkatkan kenyamanan pada pasien




Untuk menghindari nyeri yang lebih berat




Agar perawat mampu melakukan tindakan peredaan nyeri pada pasien

2
Gangguan Kerusakan Integritas Kulit b.d Penurunan imunologis d.d Gangguan permukaan kulit           
Jangka Panjang: Setelah dilakukan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan integritas kulit klien utuh
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Temperatur jaringan sesuai yang diharapkan
2
5
2
Pigmentasi sesuai yang diharapkan
3
5
3
Warna sesuai yang diharapkan
3
5

Jangka Pendek: Setelah dilakukan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan integritas kulit klien utuh.
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Temperatur jaringan sesuai yang diharapkan
2
4
2
Pigmentasi sesuai yang diharapkan
3
4
3
Warna sesuai yang diharapkan
3
4
Observasi: Monitor kulit akan adanya kemerahan

Mandiri: Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi. Gambarkan lesi dan amati perubahan.

Kolaborasi: Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein, mineral, kalori dan vitamin.

Penkes: Ajarkan pasien untuk membatasi kontak fisik yang terlalu lama dengan sinar matahari.
Untuk mengetahui tingkat kerusakan pada kulit

Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat.


Untuk mempercepat proses penyembuhan pada kerusakan yang terjadi pada kulit



Untuk mengurangi paparan sinar UV terhadap kulit pasien





3
Intoleran Aktivitas b.d Imobilitas d.d Menyatakan merasa lelah dan ketidaknyamanan setelah beraktivitas
Jangka Panjang: Setelah dilakukan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan aktivitas klien meningkat.
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Warna kulit
2
5
2
Langkah berjalan
2
5

Jangka Pendek: Setelah dilakukan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan aktivitas klien meningkat.
Kriteria hasil :
No
Indikator
IR
ER
1
Warna kulit
2
4
2
Langkah berjalan
2
4
Observasi: Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas

Mandiri: Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas

Kolaborasi: Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri merupakan salah satu factor penyebab

Penkes: Mengenali tanda dan gejala Intoleran Aktivitas, termasuk kondisi yang perlu dilaporkan kepada dokter

Agar pasien ingin meningkatkan aktivitasnya.




Agar pasien dapat menyesuaikan pilihan aktivitas sesuai dengan keadaan pasien

Agar ketika pasien beraktivitas tidak merasakan nyeri





Untuk mencegah kondisi pasien yang memburuk






4.      Kriteria Evaluasi
No
DX Kep
Kriteria Evaluasi
1.
Nyeri Akut
Menunjukkan Nyeri akut yang efektif, yang dibuktikan oleh: Tidak ada nyeri sendi, tidak ada bengkak, tidak kaku, tekanan  darah dalam batas normal, dan RR dalam batas normal.
2.
Gangguan Kerusakan Integritas Kulit
Menunjukkan Gangguan kerusakan integritas kulit yang efektif, yang dibuktikan oleh: Tidak ada nyeri sendi, tidak ada bercak kemerahan pada wajah dan leher, tidak ada bengkak dan tidak kaku.

3.
Intoleran Aktivitas
Menunjukkan Intoleran aktivitas yang efektif, yang dibuktikan oleh: Tidak ada nyeri sendi dan tidak merasa lelah.






BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan salah satu penyakit autoimun yang disebabkan oleh disregulasi sistim imunitas. SLE dapat menyerang berbagai sistem organ dan keparahannya berkisar dari sangat ringan sampai berat. Etiologi belum dipastikan, secara garis besar dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu endokrin-metabolik, lingkungan dan genetik. Pencetus fungsi imun abnormal mengakibatkan pembentukan antibodi yang ditujukan terhadap berbagai komponen tubuh. Tidak ada suatu tes laboratorium tunggal yang dapat memastikan diagnosis SLE. Masalah yang paling sering dirasakan pasien adalah keletihan, gangguan integritas kulit, gangguan citra tubuh dan kurang pengetahuan untuk mengambil keputusan mengenai penatalaksanaan mandiri.

B.     Kritik & Saran
Penyusun mengharapkan adanya kritikan dan saran yang membangun dalam penulisan makalah ini.Penulis juga menginginkan adanya keikutsertaan mahasiswa lainnya agar dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari oleh seorang perawat.



DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Richard E. et.al. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC
Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan keperawatan; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnose Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Tt. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Playfair, J.H.L. 2009. At A Glance Imunologi. Jakarta : Erlangga
Wallace, Daniel J. 2007. The Lupus Book Panduan Lengkap Bagi Penderita Lupus dan     Keluarganya. Yogyakarta: B-First
Willkinson, Judith M. 2011. Buku Diagnosa Keperawatan Edisi 9. Jakarta : EGC
www.eldoxea.com/patofisiologi+penyakit+lupus Diakses pada tanggal 22 Oktober            2014 pukul 14:00 WIB
http://reumatologi.or.id/var/rekomendasi/Rekomendasi_Lupus.pdf diakses pada     tanggal 22 Oktober 2014 pukul 15:00 WIB

1 komentar:


  1. wihh nice info, saya pengunjung setia web anda
    kunjung balik, di web kami banyak penawaran dan tips tentang kesehatan
    Ada artikel menarik tentang obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit berat, cek yuk
    http://goldengamat.biz/obat-tradisional-stomatitis/

    BalasHapus